liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138
MASTER38 MASTER38 MASTER38 MASTER38 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 COCOL88 COCOL88 COCOL88 COCOL88 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 ZONA69 ZONA69 ZONA69 NOBAR69 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38
SLOT GACOR HARI INI SLOT GACOR HARI INI

Air Products Cabut dari Proyek DME RI Imbas Tingginya Harga Batu Bara

Produksi Batu Bara 2023 Ditargetkan Naik 4,6%, Penuhi Kebutuhan PLN

Keberangkatan Air Products and Chemicals Inc. (APCI) dua proyek hilirisasi batu bara di Indonesia diduga karena tingginya harga batu bara membuat proyek tersebut tidak ekonomis.

Perusahaan pengolahan gas dan kimia asal Amerika Serikat (AS) itu diketahui bekerja sama dengan PT Bukit Asam (PTBA) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) untuk gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).

Plt Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA) Djoko Widajatno mengatakan studi kelayakan (feasibility study/FS) dilakukan PTBA dan Air Products saat harga batu bara masih berada di kisaran US$ 27-28 per ton.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan harga batu bara di Newcastle ICE Market saat ini yang mencapai US$ 175 per ton. “Dulu saat melakukan FS, harga batu bara masih rendah, sekitar sepersembilan dari harga batu bara saat ini yang mencapai ratusan,” ujar Djoko di CNBC Mining Zone, Kamis (16/3).

Dalam kesempatan itu, Djoko merujuk hasil kajian lembaga riset internasional asal Amerika Serikat, Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) yang menghitung kerugian proyek gasifikasi batu bara yang dikelola PTBA dan Air Products mencapai AS. $ 377 juta per tahun.

“Mereka berbicara melalui statistik tentang kenaikan harga batu bara dan kemudian memang batu bara mengalami kenaikan yang sangat tinggi. Itu titik baliknya. Air Products menganggap proyek itu sangat mahal,” kata Djoko.

Djoko juga mengatakan, skema gasifikasi batu bara belum banyak diterapkan oleh mayoritas negara konsumen batu bara terbesar dunia seperti India dan China. Menurut Djoko, kedua negara memandang DME sebagai proyek yang mahal dan tidak ekonomis.

“Kenapa tidak dicairkan, karena mereka masih punya uang untuk membeli LNG, padahal tujuan kita menghemat Rp 9,14 triliun dengan investasi US$ 2,1 miliar,” kata Djoko.

Sebelumnya, Plt Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Muhammad Idris Froyoto Sihite, Air Products and Chemicals Inc. mengundurkan diri dari dua proyek hilir batubara domestik karena stagnasi perhitungan investasi antar perusahaan.

“Ya, proyek bersama PTBA dan KPC juga akan ditarik, batal semua. Mungkin karena skema bisnis dan aspek ekonominya belum terpenuhi,” kata Idris kepada wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (9/9). /3). .

Sementara itu, KPC berencana membangun proyek pengolahan batu bara menjadi metanol. Proyek yang berlokasi di Bengalon, Kalimantan Timur ini ditargetkan beroperasi pada 2025 dengan kapasitas batu bara 5-6,5 juta ton per tahun (GAR 4.200 kcal/kg). Yield produk ditargetkan mencapai 1,8 juta ton metanol per tahun.

Sementara itu, rencana proyek hilirisasi batubara PTBA berorientasi pada gasifikasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME). Proyek yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan ini diperkirakan mampu memproduksi 1,4 juta ton DME per tahun dari 6 juta ton batu bara berkalori 4.200.

Selain itu, pabrik tersebut juga akan memproduksi 2,1 juta ton metanol per tahun dan Syngas atau gas sintetis sebesar 4,5 juta kN/m3 per tahun.

Namun, rencana itu terancam dihentikan setelah Air Products and Chemicals Inc. mengirimkan surat resmi pengunduran diri kepada pemerintah melalui Kementerian Penanaman Modal.

Direktur PT Bukit Asam (PTBA), Arsal Ismail, menolak menjelaskan secara detail alasan dan faktor Air Products and Chemicals Inc mundur dari proyek gasifikasi batu bara.

Perusahaan juga akan bekerja sama dengan Air Products and Chemicals Inc. meminta klarifikasi lebih lanjut atas keberlangsungan proyek senilai Rp 34,04 triliun itu.

“Air Products sudah mengirimkan surat resmi dengan alasannya. Mereka mungkin punya alasan sendiri. Surat itu dikirim melalui kementerian yang bisa menjelaskan lebih detail,” kata Arsal saat ditemui wartawan di The St Regis Jakarta, Kamis (9). . /3).