liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Antam Pastikan Perkara Nikel di WTO Tak Pengaruhi Proyek Hilirisasi

Antam Pastikan Perkara Nikel di WTO Tak Pengaruhi Proyek Hilirisasi

PT Aneka Tambang (ANTAM) terus mendesak agar proyek pengembangan baterai kendaraan listrik dalam negeri dipercepat meski Indonesia disebut melanggar ketentuan WTO terkait larangan ekspor bijih nikel.

Keterlibatan ANTAM dalam ekosistem kendaraan listrik melalui konsorsium PT Indonesia Battery Corporation atau IBC yang terdiri dari MIND ID yang merupakan induk perusahaan ANTAM, kemudian Pertamina dan PLN.

Direktur Pengembangan Bisnis ANTAM Dolok Robert Silaban mengatakan, proyek hilirisasi bijih nikel menjadi baterai kendaraan listrik terus berlanjut di tengah sikap WTO yang menolak pembelaan yang disampaikan pemerintah terkait kebijakan larangan ekspor bijih nikel.

Dolok menegaskan, proyek pengembangan baterai kendaraan listrik yang dikelola IBC bersama LG Energy Solution (LGES) dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL) terus bergerak ke arah yang positif.

“Hilir nikel lebih ke NPI dan baterai, ya baterai ini banyak mengandung nikel sebagai bahan bakunya,” kata Dolok saat ditemui di Gedung Nusantara I DPR, Kamis (24/11).

Lebih lanjut, kata Dolok, percepatan ekosistem pengembangan baterai kendaraan listrik di Tanah Air gencar dilakukan setelah pemerintah kembali menjajaki kemitraan baru di luar kerja sama IBC dengan LGES dan CBL.

“Jadi sekarang kita ada calon investor, ada beberapa tapi masih dalam tahap negosiasi. Ya CBL dan LG, ada beberapa yang baru, masih dalam posisi pembahasan,” ujar Dolok.

Mengenai kolaborasi terbaru, Dolok tidak merinci. Dia menolak untuk mengungkapkan nama perusahaan dan negara asal. “Istilah itu baru terlintas di benak saya saat diberi tahu,” kata Dolok.

Lurus hilir

Sementara itu, Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan, pemerintah akan mengajukan banding atas keputusan panel WTO yang menolak pembelaan larangan ekspor bijih nikel karena cadangan nikel negara yang terbatas.

Sebagai Holding BUMN Pertambangan, MIND ID akan terus menjalankan program hilirisasi komoditas pertambangan di tanah air.

“Terkait keputusan tersebut, RI akan melakukan banding, maka apa yang diarahkan oleh pemerintah, MIND ID akan melaksanakannya karena hilirisasi sudah menjadi amanat,” ujar Dany ditemui di lokasi yang sama.

Menurutnya, keputusan Indonesia untuk mengajukan banding diperkuat dengan kondisi pembangunan hilir negara yang telah menghasilkan beberapa produk turunan olahan yang berdampak positif bagi keuangan negara.

“Jadi kami melakukan imbauan, secara hukum kami imbau karena beberapa produk hilir sudah dibuat. Ini demi keberlangsungan negara dan keberlangsungan bisnis korporasi,” kata Dany.

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan Indonesia kemungkinan akan kalah dalam gugatan di WTO terkait larangan ekspor bijih nikel oleh Uni Eropa, yang sebenarnya bertujuan untuk mendorong hilirisasi dalam negeri.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan WTO menolak pembelaan pemerintah terkait cadangan nikel negara yang terbatas. Kebijakan larangan ekspor nikel dinilai melanggar Pasal XI.1 GATT 1994.

“Putusan akhir panel WTO terkait kasus larangan ekspor bijih nikel Indonesia memutuskan pelarangan ekspor dan kewajiban serta pengolahan mineral di dalam negeri terbukti melanggar ketentuan WTO,” ujar Arifin dalam Rapat Kerja (Raker) . ) dengan Komisi VII DPR pada Senin (21/11).