liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138

Dorong Bisnis PLTS, Pertamina Akan Manfaatkan Captive Market 1.500 MW

Dorong Bisnis PLTS, Pertamina Akan Manfaatkan Captive Market 1.500 MW

PT Pertamina menggalakkan pengembangan energi terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) melalui anak usahanya PT Pertamina New Renewable Energy (NRE). Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina EBT memiliki modal besar berupa pasar khusus atau captive market di lingkungan Pertamina, mencapai 1.500 MW.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan, Pertamina EBT memiliki modal yang jauh lebih besar dalam mengembangkan PLTS dibanding perusahaan lain yang menyediakan bisnis sejenis.

“Solar photovoltaic sekitar 800 MW dan maksimal 1500 MW. Bisa ditanyakan apakah ada perusahaan lain yang memiliki captive market sebesar itu,” ujar Nicke dalam acara Launching EBT Pertamina di Grha Pertamina Jakarta, Kamis (3/ 11).

Dia mengatakan, Pertamina kini memiliki aset lahan yang bisa digunakan untuk pembangunan PLTS. Karena itu, tidak perlu berurusan dengan izin lagi. “Kalau uangnya kurang, bicara saja dengan direktur keuangan, mereka akan alokasikan. Pola integrasi dari hulu ke hilir seperti Pertamina membangun bisnis migas,” kata Nicke.

Direktur Utama EBT Pertamina Dannif Danusaputro mengatakan pihaknya masih harus mengatasi beberapa tantangan dalam pengembangan EBT. Salah satunya adalah praktik dominasi tunggal di sektor bisnis EBT di tanah air.

“Selama ini Pertamina di migas, industri yang berbeda. Banyak tantangan sehingga kita harus beradaptasi. Di Indonesia masih banyak tantangan dari sektor energi, masih banyak monopoli yang harus dihadapi bersama,” ujarnya. . Dannif.

Pertamina menyediakan belanja modal (capex) sebesar US$ 11,9 miliar atau Rp 170,9 triliun (kurs Rp 15.200) untuk pengembangan bisnis energi baru terbarukan (EBT), panas bumi, gas, bioenergi, perdagangan karbon, dan perluasan bisnis. dalam baterai dan kendaraan listrik. Perusahaan energi milik negara itu berusaha mencapai target pangsa 19% tenaga gas dan 17% EBT dalam bauran energinya pada 2030.

Vice President Technical and Engineering PT Pertamina Power Indonesia, Nanang Kurniawan mengatakan, produk bisnis energi bersih yang ditawarkan perseroan masih minim. Pada tahun 2021, produksi gas masih berada di level 15% dari total bauran energi yang dihasilkan Pertamina. Sedangkan produk EBT masih berada di kisaran 1%. Produksi minyak olahan masih menjadi produsen terbesar dengan 81%.

“Pertamina berperan di satu sisi dengan kewajiban menjalankan pasokan energi nasional dan juga menjalankan bisnis EBT,” kata Nanang sebagai pembicara dalam UOB Economic Outlook 2023, Kamis (29/9).

Pemerintah telah menggelontorkan dana cukup besar untuk proses transisi energi dengan menargetkan investasi di sektor baru, energi terbarukan dan penghematan energi (EBTKE) mencapai US$ 3,91 miliar pada 2022. Investasi tersebut terdiri dari US$ 0,16 miliar untuk bioenergi, US$ 2, 79 miliar untuk berbagai EBT, dan US$ 0,95 miliar untuk panas bumi.