liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77

Dua Langkah Andalan Kementerian ESDM Atasi Kelebihan Pasokan Listrik

Wacana Bagi-bagi Rice Cooker Gratis, Efektif Kerek Konsumsi Listrik?

Kementerian ESDM berupaya untuk mengurangi kelebihan pasokan listrik atau excess supply melalui dua mekanisme, yaitu meningkatkan rasio elektrifikasi untuk meningkatkan kebutuhan listrik dan menghentikan sebagian kegiatan produksi listrik.

Dirjen Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) yang baru, Dadan Kusdiana menjelaskan, upaya peningkatan kebutuhan listrik dapat dilakukan dengan meningkatkan penggunaan kendaraan listrik dan kompor listrik.

Sedangkan pengurangan kelebihan pasokan listrik dapat diatasi dengan menghentikan atau menghentikan secara bertahap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara. Dadan mengatakan kelebihan pasokan listrik ini menjadi penyebab minimnya penyerapan listrik EBT ke dalam sistem jaringan listrik PLN.

PLN mengalami surplus listrik yang signifikan karena tambahan pasokan tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan penyerapan listrik. Di Pulau Jawa, listrik 6.800 megawatt (MW) atau 6,8 gigawatt (GW) akan masuk tahun depan, sedangkan tambahan kebutuhan hanya 800 MW.

Situasi yang sama juga terjadi di Pulau Sumatera yang akan mengalami peningkatan kapasitas sebesar 5 GW dalam tiga tahun mendatang hingga tahun 2025. Sedangkan penambahan kebutuhan listrik hanya sebesar 1,5 GW. Kejadian serupa juga terjadi di Kalimantan dan Sulawesi bagian selatan.

“Kita sekarang kelebihan listrik, yaitu listrik yang tidak hijau. Analoginya kalau kita jual, kalau barang lebih banyak ada orang yang mau jual, gimana mau beli, stok saya juga sekarang banyak. Kalau surplus supply habis, listrik dari energi Renewable Energy bisa lebih cepat masuk,” ujar Dadan saat menjadi pembicara dalam acara Cut the Tosh Cooperation Summit di Thamrin Nine Ballroom Jakarta, Rabu (19/10).

Peluang bisnis listrik EBT

Penyediaan listrik dari sumber energi baru dan terbarukan (EBT) dinilai sebagai peluang bisnis baru bagi para pelaku bisnis energi. Pasalnya, pemerintah saat ini menargetkan produksi listrik bersih 20,9 GW ke dalam sistem PLN pada 2030. “Selain menghasilkan listrik bersih, menurut saya ini peluang bisnis,” kata Dadan.

Dalam paparannya, Dadan memproyeksikan kapasitas pembangkit EBT pada tahun 2060 mencapai 708 GW dengan komposisi mayoritas berasal dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 421 GW, pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) 94 GW dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 72 GW. ).

Dadan mengatakan, Indonesia memiliki potensi sumber daya EBT hingga 3.600 GW yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Di sisi lain, akan ada peluang ekspor listrik ke luar negeri.

“Alasannya 3.600 GW, ini jauh lebih dari cukup sehingga ke depan misalnya kita akan bekerja sama dengan negara lain mengekspor listrik jika kebutuhan dalam negeri terpenuhi,” jelas Dadan.

Untuk mengatasi masalah intermiten sumber listrik yang berasal dari EBT seperti PLTS, Kementerian ESDM dan PLN akan mengembangkan teknologi smart grid dan storage dengan media baterai.

Rencana produksi listrik dari energi nuklir juga akan terhubung dengan sistem mulai tahun 2039 dengan kapasitas 31 GW. “Mungkin dalam lima tahun ke depan kita tidak akan melihat terlalu banyak peran transisi energi, tetapi proses ini akan terus berlanjut dan berlanjut hingga tahun 2060,” kata Dadan.