liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

ESDM Lobi Perbankan Untuk Salurkan Pembiayaan Proyek Smelter Bauksit

Serapan Domestik Minim, Hasil Hilirisasi Tambang Mayoritas Diekspor

Kementerian ESDM sedang melobi perbankan nasional untuk mempercepat hilirisasi bauksit. Ini menyusul keluhan para pengusaha yang sulit mendapatkan pembiayaan dari perbankan untuk proyek pengolahan dan pemurnian mineral atau smelter.

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara, Tri Winarso mengatakan, Kementerian ESDM sedang mencari solusi terbaik untuk mempercepat penyediaan infrastruktur guna mendukung larangan ekspor bijih bauksit yang akan dimulai Juni ini.

“Saya hanya ingin membahasnya secara intensif, kami juga harus berdiskusi dengan bank terkait. Saat ini belum,” kata Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Senin (9/1).

Sambung Tri, bank umumnya akan melihat cash flow perusahaan sebelum memutuskan memberikan pembiayaan untuk pembangunan smelter.

Menurut perhitungan para pengusaha, dibutuhkan belanja modal rata-rata US$ 1,2 miliar atau setara Rp 18,6 triliun untuk membangun unit peleburan dengan kapasitas pengolahan 6 juta ton bijih bauksit hingga 2 juta ton alumina per tahun. .

“Cash flow dari perusahaan seperti apa kalau misalnya pabrik dibangun, harus bertemu dengan bank dulu,” ujarnya.

Tri juga mengatakan, progres pembangunan smelter bauksit di Tanah Air hingga saat ini masih berada di level tiga dari 12 unit smelter yang dibangun.

Ketiga smelter tersebut merupakan pabrik pengolahan bijih bauksit dengan output smelter grade alumina (SGA), milik PT Well Harvest Winning Alumina Refinery dan PT Bintan Alumina. Kedua smelter dengan kapasitas input 12,5 juta ton bijih bauksit tersebut dapat memproduksi hingga 4 juta ton bauksit olahan setiap tahunnya.

Sedangkan smelter kimia grade alumina (CGA) PT Indonesia Chemical Alumina memiliki kapasitas input bijih bauksit sebesar 750 ribu ton. Smelter tersebut dapat menghasilkan 300.000 ton bauksit olahan.

Lalu ada smelter untuk mengolah produk lanjutan dari bijih bauksit menjadi aluminium, ingot dan billet yang dioperasikan oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Smelter tersebut memiliki kapasitas produksi sebesar 345.000 ton.

“Ya, ada beberapa di antaranya. Namun hal ini sedang kita diskusikan untuk mempercepatnya. Untuk progresnya ada yang di bawah 50%, tapi yang jelas sudah ada tiga smelter yang dibuat,” kata Tri.

Sebelumnya diberitakan, Asosiasi Industri Bauksit dan Bijih Besi Indonesia (APB3I) menyebut sumber pembiayaan atau pinjaman untuk pembangunan smelter bijih bauksit cukup sulit.

Pj Ketua Harian APB3I, Ronald Sulistyanto mengatakan, sumber pembiayaan atau suntikan modal dari lembaga keuangan di tanah air semakin sulit menyalurkan pinjaman kepada pelaku usaha di industri bauksit.

“Kami sudah ajukan ke Himbara (Himpunan Bank-Bank Milik Negara) tapi ditolak. Sebenarnya kami minta tambahan penyertaan agar bisa setara dengan investor, tapi itu tidak mungkin,” kata Ronald kepada Katadata.co.id melalui telepon. pada Jumat (30/12/2022).