liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77

Jokowi Setop Ekspor Bijih Bauksit, Pengusaha Khawatir Pasokan Mubazir

Jokowi Setop Ekspor Bijih Bauksit, Pengusaha Khawatir Pasokan Mubazir

Asosiasi Pengusaha Bauksit dan Bijih Besi Indonesia (APB3I) menilai larangan ekspor bauksit mentah pada pertengahan tahun depan perlu diimbangi dengan pengadaan pabrik pengolahan atau peleburan mineral. Jika tidak, situasi ini menimbulkan kekhawatiran pasokan bijih bauksit akan berlebihan karena tidak dapat diolah.

Ketua Pelaksana APB3I, Ronald Sulistyanto mengatakan, fasilitas pemurnian smelting di dalam negeri tidak cukup untuk mengolah seluruh produksi bijih bauksit yang ada. Menurut catatan APB31, terdapat 28 perusahaan yang aktif dalam kegiatan penambangan bijih bauksit dengan pencapaian produksi rata-rata 2 juta ton per tahun.

Hal ini membuat produksi bijih bauksit setiap tahun rata-rata mencapai 56 juta ton. “Produksinya setiap tahun sama,” kata Ronald saat dihubungi melalui telepon, Kamis (22/12).

Menurut Ronald, ada potensi sekitar 40 juta ton bijih bauksit yang tidak bisa terserap ketika pemerintah memberlakukan kebijakan larangan ekspor. Angka tersebut muncul dari perhitungan APB3I berdasarkan kapasitas tiga smelter bauksit yang beroperasi, yakni dua Smelter Grade Alumina (SGA), dan satu Smelter dengan output Chemical Grade Alumina (CGA).

Kedua smelter SGA tersebut mampu mengolah 12,5 juta ton bijih bauksit dengan yield alumina hingga 4 juta ton per tahun. Sedangkan Smelter CGA mampu menyerap 750 ribu ton bijih bauksit dengan produksi bauksit olahan sebanyak 300 ribu ton per tahun. “Masalahnya penyerapan. Kalau terhambat, banyak yang menganggur akibat terhentinya produksi,” ujarnya.

Kondisi pasokan bijih bauksit yang tidak terserap dinilai menimbulkan kerugian ganda. Pasalnya, para pebisnis menghabiskan rata-rata US$ 1,2 miliar atau setara Rp 18,6 triliun per tahun untuk modal. Pembiayaan ini biasanya digunakan untuk mengolah 6 juta ton bijih bauksit menjadi 2 juta ton alumina per tahun.

Realisasi Pembangunan Peleburan

Sebaliknya, pemerintah menyatakan memiliki empat smelter bauksit dengan kapasitas pengolahan atau produksi alumina sebesar 4,3 juta ton per tahun. Kementerian ESDM menargetkan tambahan 9 smelter bauksit beroperasi pada 2023.

Menurut Ronald, target pemerintah untuk bisa membangun 9 smelter bijih bauksit cukup sulit dicapai. Selain kebutuhan dana yang tinggi, sumber pembiayaan atau pinjaman untuk pembangunan smelter bijih bauksit juga sulit. “Pendanaan susah. Yang punya pemerintah belum siap, apalagi swasta. Rata-rata masih 23%, 25%. Mungkin hanya ANTAM yang bisa menyelesaikannya,” ujar Ronald.

Karena itu, Ronald berharap pemerintah mengkaji ulang soal rencana penghentian ekspor bauksit mentah. Menurut dia, larangan ekspor bauksit tidak bisa disamakan dengan klaim keberhasilan pemerintah dalam moratorium ekspor bijih nikel.

Dia juga mendesak DPR mengkaji roadmap hilirisasi bahan baku bauksit yang diatur dalam UU Minerba No. 3 Tahun 2020. “Nikel hilirnya beragam, tidak seperti bauksit yang tunggal dalam aluminium,” ujar Ronald.

Pemerintah akan mendorong pembangunan 12 fasilitas pemurnian atau peleburan baru untuk memanfaatkan kebijakan pelarangan ekspor bauksit mentah. Saat ini terdapat empat smelter bauksit yang beroperasi di dalam negeri dengan kapasitas produksi 4,3 juta ton per tahun.

Selain itu, pemerintah juga menyebut ada empat smelter yang sedang dibangun dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 4,98 juta ton per tahun. Jika semua selesai, akan ada 20 smelter yang siap mengolah bauksit.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, dari delapan pabrik yang disediakan, masih bisa dibangun 12 smelter lagi. “Ketahanan cadangan bauksit kita antara 90-100 tahun,” ujarnya di Istana Merdeka, Rabu (21/12).

Hingga Juni 2022, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyatakan Indonesia memiliki pabrik pengolahan bijih bauksit dengan keluaran smelter grade alumina (SGA), milik PT Well Harvest Winning Alumina Refinery dan PT Bintan Alumina. Kedua smelter dengan kapasitas input 12,5 juta ton bijih bauksit tersebut dapat memproduksi hingga 4 juta ton bauksit olahan setiap tahunnya.

Sedangkan smelter kimia grade alumina (CGA) PT Indonesia Chemical Alumina memiliki kapasitas input bijih bauksit sebesar 750 ribu ton. Smelter tersebut dapat menghasilkan 300.000 ton bauksit olahan.

Kemudian, ada smelter yang mengolah produk bauksit lanjutan menjadi aluminium, ingot dan billet yang dioperasikan oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Smelter tersebut memiliki kapasitas produksi sebesar 345.000 ton.

Pada Rabu (21/12), Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan larangan ekspor bauksit mulai Juni 2023. Kebijakan itu berlaku bagi bauksit dalam bentuk bijih yang telah melalui proses pencucian bauksit.

“Mulai Juni 2023, pemerintah akan memberlakukan larangan ekspor bijih bauksit. Dan mendorong industri pengolahan dan pemurnian bauksit dalam negeri,” kata Jokowi dalam siaran pers di YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (21/12).

Larangan ekspor bauksit bertujuan untuk menciptakan nilai tambah bagi komoditas yang dihasilkan dari produk tambahan tersebut.

Kementerian ESDM juga telah menghitung potensi nilai tambah dari proyek hilirisasi bauksit. Saat masih berupa bijih bauksit, harga jualnya di pasar sekitar US$ 18 per ton. Harga jual akan meningkat setelah bauksit dimurnikan menjadi alumina dengan harga jual US$ 350 per ton, dan berpotensi meningkat lebih lanjut jika diolah menjadi produk aluminium dengan harga US$ 1.762 per ton.